Di lingkungan Masjid Al Munawwaroh ada sebuah langkah sederhana namun penuh makna. Di pekarangan masjid kini telah ditanam tiga pohon sukun. Bukan sekadar menanam pohon biasa, tetapi menanam harapan, kebersamaan, dan semangat kerukunan warga.
Ide ini muncul dari kebiasaan jamaah yang sering berkumpul bersama setelah kegiatan di masjid. Suasana hangat terasa semakin akrab ketika musim buah sukun tiba. Ada jamaah yang datang membawa sukun kukus, ada yang menggorengnya hingga renyah, bahkan ada juga yang membuat kolak sukun yang manis dan nikmat. Dari obrolan santai dan kebersamaan itulah muncul gagasan sederhana: “Kenapa tidak menanam sendiri pohon sukun di halaman masjid?”
Akhirnya, ditanamlah tiga pohon sukun sebagai simbol kebersamaan. Harapannya sederhana, namun indah. Kelak ketika pohon-pohon itu tumbuh besar dan mulai berbuah, jamaah bisa menikmati hasilnya bersama-sama. Tinggal panen, lalu kembali diolah menjadi berbagai hidangan yang menghangatkan suasana kebersamaan.
Sukun memang bukan buah mewah, tetapi punya nilai kebersamaan yang luar biasa. Bisa dikukus untuk teman ngopi, digoreng untuk suguhan kumpul, atau dibuat kolak saat santai bersama warga. Dari satu buah, bisa lahir banyak cerita dan tawa.
Menanam pohon juga menjadi bentuk sedekah jangka panjang. Pohonnya memberi keteduhan, buahnya memberi manfaat, dan kebersamaannya memberi keberkahan. Semoga tiga pohon sukun di halaman masjid ini tumbuh subur, berbuah lebat, dan menjadi pengingat bahwa kerukunan bisa tumbuh dari hal-hal sederhana.
Karena kadang, menjaga kebersamaan tidak harus dengan sesuatu yang besar. Cukup mulai dari menanam sukun… biar rukun.
